Minggu, 27 Juni 2010

Jangan Mimpi Deh INGGRIS...!!!

Skor di papan electric free state stadium dikota Mangaung Bloemfontein Afsel menunjukan angka 4-1, habissss laahh sudah buat the capello boys, God save queen di pembuka laga menjadi hambar bagi para fans england yg terkenal super optimis dan "angkuh" itu. status capello from hero to zero jelas kini menjadi nyata.

Kegagalan di piala dunia 2010 kali ini semakin menyiratkan tidak ada yang spesial dengan kedatangan fabio capello sebagai pelatih Inggris, dibawah capello Inggris bahkan tampil lebih buruk dari 3 piala dunia sebelumnya. jadi kesimpulan yang ditarik disini bahwa permainan Inggris sudah metok, gamblangnya Inggris sudah tampil maksimal, inilah kemampuan maksimal yg bisa dihasilkan oleh para "selebritis" lapangan hijau negeri yang merasa ibu dari sepakbola tersebut. siapa pun pelatih terbaik didunia yang menanggani Inggris tidak akan bisa membawa Inggris ke final kejuaraan dunia ,apalagi kemudian menjadi juara,karena mungkin hanya "keajaiban" yg dimiliki yunani dan denmark lah yg akan membuat tim medioker sekelas Inggris juga bisa juara diturnamen antar negara.

seperti yang telah saya prediksi jauh diawal ketika Inggris memastikan satu tempat di world cup setelah tampil "perkasa" dibabak kualifikasi, bahwa ketika itu saya katakan keperkasaan Inggris itu akan semu, akan sangat tidak berarti ketika tampil di turnamen sesungguhnya (world cup), karena lawan yg dihadapi Inggris di babak kualfikasi hanya memberikan kemanjaan bagi mereka, mereka tidak bertarung dengan level nya sendiri ketika melawan tim-tim seperti kazakhstan, belarusia, Andorra, sedangkan ukraina dan croatia sudah terlanjur tidak bergigi lagi, keberuntungan diawal, namun efek nya bencana dikemudian hari.

Inggris membutuhkan lawan yg lebih baik daripada tim-tim yang mengisi grup nya,lihatlah ketika ujicoba melawan brazil dan belanda, mereka terkesan sangat pecundang, dan semua itu tiba pada klimaks nya malam ini, ketika di bantai oleh pasukan muda Jerman yang memang tidak perlu tampil gagah di kualifikasi, karena memang sudah memiliki mental sebagai tim petarung di turnamen.

Demikian pula banyak yang menyerang statement saya ketika saya mengatakan jadwal yang padat, plus pengunduran jadwal premiership diawal tahun yang dikarenakan badai salju di Inggris akan menjadi pembunuh dari ambisi timnas Inggris, jadwal yang tidak manusiawi itu plus penjadwalan ulang pertandingan2 di Inggris pada akhirnya memaksa pemain-pemain Inggris terasa berat untuk berlari lebih kencang, lebih fokus, lebih kuat, lebih cerdas dalam berpikir dilapangan, mereka datang dan hadir di piala dunia terkesan hanya untuk berpartisipasi, semua skill individu dan teknik permainan khas inggris mutlak hanya berlaku di level klub saja.

Liatlah wayne rooney, apa yg ditampilkan ketika berbalut kaos merah Man Utd sangat berbanding terbalik dengan ketika dia membela panji-panji three lion, nyaris satu tahun tidak memberikan kontribusi utama nya dengan mencetak gol buat Inggris, plus catatan 4 pertandingan tanpa gol di piala dunia jelas prestasi yg sangat memalukan untuk seorang striker yang dianggap merupakan salah satu yang terbaik di dunia, tidak ada tusukan khas rooney dari sayap, plesing powerfull seperti yang di tunjukan nya ketika bermain untuk the red devils. tidak ada kuda-kuda perkasa rooney di timnas layak nya diklub, rooney sangat susah di hentikan dengan tackling maupun body charge lawan,tapi di timnas rooney sangat rapuh, sangat terbaca pergerakan nya, secara tiba-tiba menjadi sangat medioker kelas nya sebagai striker level dunia, well utk tahap ini buat anda fans rooney lupakan keinginan utk melihat WR10 sebagai pemain terbaik dunia tahun ini,IMPOSIBBLE! dan statement WR10 sebagai white pele perlu dipertimbangkan lagi bila merujuk pada dua piala dunia yang telah dilakoni nya, bukan kah kelas nya tidak lebih baik dari pada seorang Miroslav Klose yang tidak pernah dijuluki nama berdasarkan inspirasi pemain besar.

Kesemua alasan dan analisis diatas sudah disajikan dan diprediksi jauh sebelum piala dunia di gelar, dan malam ini ada kepuasan secara pribadi ketika hal-hal tersebut setidaknya menjadi nyata dan fakta, Inggris terkapar, dan ini bukan kejutan buat saya pribadi, saya tidak pernah meng-underestimate Inggris dengan menyatakan Inggris tidak lolos babak berikut, namun saya tetap objektif dengan menyatakan Inggris tidak akan lebih dari perempat final, malam ini teori itu menjadi sedikit lebih cepat, dan satu lagi prediksi saya yang meleset Inggris tidak jadi bertemu dengan argentina di perempat final.

Sekarang belum sadarkah kita kalau Inggris itu hanya tim medioker yang kehebatan nya hanya bentukan image media karena glamouran liga domestik nya saja. coba kita buka mata dan nalar kalau Inggris itu tidak lebih baik dari pada Turki, Korea Selatan, Swedia, Croatia, Rusia. Inggris berada dilevel medioker atas negera-negara eropa, perlu waktu relatif sangat lama buat Inggris untuk bisa menjadi juara kembali seperti tahun 66.

44 years of hurt never stopped me dreaming....lirik tersebut kaya nya pas buat fans Inggris. dimana kita bakal terus memodifikasi angka yang ada didepan tersebut layaknya spanduk di sudut old trafford yang di tujukan untuk lama nya manchester city mengangkat satu throphy.

Inti dari semua kesimpulan diatas, Inggris terlalu angkuh untuk mengaku diri nya hanya lah medioker yang penuh dengan omong kosong untuk mensejajarkan diri dengan para raksasa sepak bola dunia, Inggris tidak akan pernah menjadi juara dunia selain tahun 1966, mungkin kutukan atas kecurangan di final itu belum berakhir, walaupun telah impas dibayar Jerman malam ini (merujuk pada tendangan lampard), terlalu susah dosa itu terhapus.

United > England,......
Liverpool > England......
Arsenal > England,......
Chelsea >England.......

Bukti Sahih ketika Negara yang menyatakan diri nya sebagai IBU dari sepakbola namun telah di khianati oleh ANAK nya sendiri...

TRAGIS!!!!

El Diego Vendey