Awal 92 sepertinya menjadi awal petaka bagi keruntuhan suatu idialisme dalam sepakbola buat satu klub yang menjelma menjadi salah satu raksasa dunia, Manchester United (MU) mencoba membuat trend atau revolusi dalam perkembangan sepakbola modern, dengan merubah klub nya dari sekedar sebuah klub sepakbola menjadi Perusahaan Terbuka yang terdaftar di bursa saham, dimana memungkinkan setiap orang memiliki klub itu dengan membeli saham nya, mungkin dipikiran awal para petinggi MU dikala itu dengan demikian para suporter sejati dapat memiliki klub itu dengan menguasai saham, namun itu menjadi neraka ketika para pelaku bisnis pasar modal lah justru yang menguasai saham itu.
Nasib telah menjadi bubur, status MU pun sekarang bukan lagi perusahaan terbuka, cita-cita awal para pendiri MU mungkin sekarang sudah keluar dari jalur nya, karena take over super jenius oleh seorang Malcolm Glazer membuat MU kini mutlak dikuasai Murni secara pribadi oleh Glazer dan Keluarga nya. Dulu mungkin para petinggi MU tidak akan memperkirakan saham klub sepakbola akan diminati oleh pelaku atau kalau boleh kasar kita katakan spekulan pasar modal, mungkin dulu mereka hanya memperkirakan hanya suporter MU sajalah yang mau membeli saham sebuah klub yang bertranformasi menjadi perusahaan terbuka dimana nilai saham nya hanya akan di pengaruhi oleh pergerakan prestasi tim itu saja. Namun sekarang penguasaan atas satu klub besar kalau dirancang dengan sistematis justru akan menjadi ladang bagi sang tuan tanah nya,MU adalah contoh nya.
Uang Trilyunan rupiah hasil penjualan Ronaldo semestinya akan sangat terasa sekali bagi finansial MU, tp apa lajur justru penjualan itu sangat tidak berarti sama sekali, karena mungkin hanya akan di gunakan guna mencicil bunga dari utang yang di pinjam glazer ketika membeli MU dulu, dan itu pun belum cukup, konon akan ada penjualan-penjualan fantastis berikut nya yang akan membuat MU menjadi klub spesialis penjual pemain mahal. Wayne Rooney, Nemanja Vidic bisa saja menjadi "korban" berikut nya, bahkan yang sangat jauh dalam alam khayalan kita bisa saja OT sebagai katedral fans MU dan Carrington sebagai kawah candradimuka nya MU akan di lego demi membayar utang Glazer yang diplesetin jadi utang MU.
Periode awal premiership sampai kita treble tahun 99 adalah masa-masa indah saya atau mungkin para suporter atau fans sejati MU diseluruh dunia, kenapa sejati? karena hanya suporter dan fans sejati yang mau tau ttg MU dari berbagi sisi dan bukan hanya sekedar hasil skor dilapangan. periode itu begitu terasa sekali fanatisme dalam fans MU, karena MU adalah sebuah tim besar dengan sejarah panjang dan idialisme yang kuat, betapa bangga nya ketika para fans dan suporter bergabung dan mengusir rupert murdoch yang terus mengintai MU bak lebah mengintai kembang. kejayaaan menjadi raja eropa yang kita dapatkan dimalam indah dikota barcelona seakan menahbiskan kita sebagai penguasa eropa yang sesungguhnya, sebuah tim yang berjaya yang dimiliki bersama oleh suporter, sebuah tim yang dengan doa para suporter nya bisa membuat keajaiban dua gol di injury time time itu, doa yang membuat seorang sepp blater tertekun bingung, karena ketika turun dari podium kehormatan justru telah menyiapkan ucapan selamat kepada lothar mattheus kapten munchen ketika itu. disitulah idialisme MU mendapat suatu award luar biasa, meraih treble dengan dukungan fantastis dari semua suporter sejati MU diseluruh dunia, semua suporter bersatu berdoa untuk ke suksesan MU saat itu sehingga keajaiban pun terjadi...
Lalu bagaimana selanjutnya? seperti yang kita tahu, Glazer mengakuisisi bahkan akhirnya menjadi pemilik tunggal dari MU, 2005 terkuburlah sudah idialisme klub Manchester United, semua dukungan dari suporter hanyalah dukungan dan membuat Glazer dan keluarga nya gembira, karena setiap dukungan, setiap fans baru berarti uang buat kantong glazer dan keluarganya .fans dan suporter rame-rame urunan membayar utang-utang glazer, secara tanggung renteng namun apakah MU akan menjadi milik mereka setelah utang itu kelar, ???sayangnya MU tetap milik glazer,miris bukan?
Glazer telah berhasil membeli sejarah dan tradisi panjang MU utk di tranformasikan dalam bentuk bisnis, bagi para fans fanatik, mereka akan menghilang di OT, tidak ad lagi muka-muka pemegang tiket terusan yang setia menyaksikan MU dari jaman ke jaman, sekarang tribun di streetford end pun sudah bukan pemilik aslinya lagi, alias diperjual belikan oleh pemegang tiket terusan asli nya yang sudah ogah datang ke OT. tiket terusan tetap mereka beli seperti tradisi, turun temurun mereka, namun mereka akan menjual eceran-kan tiket-tiket itu kepada para "turis" dan uang hasil jualan nya akan mereka pakai untuk nonton di pub-pub sekitar OT dan sisanya yang banyak masih tetap bisa dipakai untuk menonton game FC United, dimana perlahan secara pasti roh dari MU di rainkarnasikan kesana, dan di klub anak kemaren sore itulah mereka tanamkan konsep idialisme dalam sepakbola dalam arti yang sesungguhnya.
Gegap gempita di Moscow pada bulan Juni 2008 jelas dan nyata milik MU, tapi samakah arti nya penerimaaannya dihati suporter sejati MU bila dibandingkan dengan malam megah di Nou Camp 99? jelas tidak!!kemenangan MU di final moscow jelas kemenangan ekspansi bisnis Glazer, dengan kemengan itu raupan euro demi euro akan masuk dalam kantong nya dan akan semakin cepat untuk menutup utang sang vampire.fanatisme suporter MU sekarang berarti bunyi dering uang buat glazer, chant chant yang berkumandang akan semakin membuat glazer sumringah, chant-chant inspiratif baru MU akan menjadi jualan glazer buat RBT di provider-provider telekomunikasi di seluruh dunia, chant inspiratif yang tercipta karena kecintaan fans terhadap MU dijual dan keuntungan nya masuk kantong pribadi glazer, wow apakah ini adil buat fans??
bandingkan dengan betapa bangga nya fans FC Barcelona ketika mereka menjadi Raja Eropa di tahun 2005 dan tahun 2009, para cules menganggap itulah puncak kejayaan, bukti eksistensi, hasil kerja keras, orgasme nya rasa kebanggaan mereka akan klub yang merupakan representasi jiwa mereka orang per orang, Joan Laporta berserta kru FCB boleh mabuk semalaman bergembira secara ekslusif, tp rakyat catalonia pun punya hak yang samauntuk merayakan nya, karena FCB adalah representasi, perwakilan jiwa dan kebanggaan mereka dalam bentuk organisasi sepakbola. ironisnya ketika kita fans MU berteriak kencang dikala throphy UCL 2008 dianggap tinggi-tinggi oleh pemain MU, berkecamuklah dihati kita kalau MU ini punya Glazer, hahahaa..... kita berteriak-teriak seperti primata selama ini ternyata hanya untuk menaikan nilai kontrak MU pada sponsor didada jersey kita musim depan, Glazer sangat jenius dalam memanfaatkan momentum itu!
Perlahan tapi pasti tumbuh kesadaran dalam fans dan suporter MU, meski kesadaran itu masih pada tingkat terbatas dikalangan fans fanatik MU, untuk siapa kita bersorak, apa untungnya kita bersorak? untuk siapa kejayaan klub yang kita sorakin? toh semua hanya berujung pada kata komersialisasi sepakbola, tidak ada lagi idealisme, kebangaan sebagai suporter yang memiliki utuh klub yang di bela, semua chant kita hanya akan jadi alat penawar Glazer pada tv untuk nilai kontrak pay per view, semakin besar desibel sorakan kita makan semakin tinggi kontrak yang akan MU terima dari TV, lalu nilai kontrak itu untuk siapa?? adakah untuk klub?? jelas untuk keuntungan pribadi sang pemilik..
Dilematis sebagai fans MU, disatu sisi sangat mencintai klub nya, disisi lain klub itu bukan punya dia, mungkin menjadi fans Arema Malang akan lebih damai hati nya, karena mereka memiliki dalam arti sebenarnya akan sebuah klub, tidak perlu throphy banyak, tidak perlu langganan juara, tp mereka punya identitas diri, harga diri fans Arema jelas lebih diatas fans MU, hahahaha....apa artinya kaya tapi kekayaan nya semu, banyak rumah kalau sertifikatnya semua di bank ya semu donk namanya, apakah anda mau hidup dalam dunia semu, ya itu pilihan masing-masing orang tentunya,.
Para suporter fanatik MU perlahan tapi pasti mundur, buktinya?? bandingkan desibel chant OT sekarang dengan saat Cantona masih bermain, beda jauhhh sekali, padahal dengan kapasitas penonton yang jauh lebih banyak seharusnya bisa menghasilkan lebih besar desibel, tapi semua itu terkubur seiring terkuburnya idialisme MU yang tergadaikan pada Malcolm Glazer. dengar lah kata seoarang alumnus Red Army bernama Matt Hacnett ini, "datanglah kekandang kami, (FCUM) kami sediakan pertandingan seharga 5 Pounds, fanatisme dan tentunya nyanyian tiada henti" "MU adalah sepak bola yang sangat bagus, tapi FC United lah sepakbola sesungguhnya, karena disana sepakbola lebih dari sekedar kehidupan" sambungnya....bahkan tokoh sentral gabungan suporter MU Nick Towle telah jelas-jelas berucap tentang MU "it's not my football club anymore"..akan kah jiwa, idialisme, tradisi, sejarah akan dipindahkan suporter ke FC United of Manchester? waktu akan menjawab, apakah gerakan suporter yang punya idialisme tinggi ini akan berhasil atau tidak, well jangan kaget 7-8 tahun dari sekarang FCUM akan menjadi seperti FC Barca, sebuah Organisasi sepak bola berwujud Klub, dan bukan Perusahaan sepakbola berwujud klub seperti MU sekarang.
Nasib telah menjadi bubur, status MU pun sekarang bukan lagi perusahaan terbuka, cita-cita awal para pendiri MU mungkin sekarang sudah keluar dari jalur nya, karena take over super jenius oleh seorang Malcolm Glazer membuat MU kini mutlak dikuasai Murni secara pribadi oleh Glazer dan Keluarga nya. Dulu mungkin para petinggi MU tidak akan memperkirakan saham klub sepakbola akan diminati oleh pelaku atau kalau boleh kasar kita katakan spekulan pasar modal, mungkin dulu mereka hanya memperkirakan hanya suporter MU sajalah yang mau membeli saham sebuah klub yang bertranformasi menjadi perusahaan terbuka dimana nilai saham nya hanya akan di pengaruhi oleh pergerakan prestasi tim itu saja. Namun sekarang penguasaan atas satu klub besar kalau dirancang dengan sistematis justru akan menjadi ladang bagi sang tuan tanah nya,MU adalah contoh nya.
Uang Trilyunan rupiah hasil penjualan Ronaldo semestinya akan sangat terasa sekali bagi finansial MU, tp apa lajur justru penjualan itu sangat tidak berarti sama sekali, karena mungkin hanya akan di gunakan guna mencicil bunga dari utang yang di pinjam glazer ketika membeli MU dulu, dan itu pun belum cukup, konon akan ada penjualan-penjualan fantastis berikut nya yang akan membuat MU menjadi klub spesialis penjual pemain mahal. Wayne Rooney, Nemanja Vidic bisa saja menjadi "korban" berikut nya, bahkan yang sangat jauh dalam alam khayalan kita bisa saja OT sebagai katedral fans MU dan Carrington sebagai kawah candradimuka nya MU akan di lego demi membayar utang Glazer yang diplesetin jadi utang MU.
Periode awal premiership sampai kita treble tahun 99 adalah masa-masa indah saya atau mungkin para suporter atau fans sejati MU diseluruh dunia, kenapa sejati? karena hanya suporter dan fans sejati yang mau tau ttg MU dari berbagi sisi dan bukan hanya sekedar hasil skor dilapangan. periode itu begitu terasa sekali fanatisme dalam fans MU, karena MU adalah sebuah tim besar dengan sejarah panjang dan idialisme yang kuat, betapa bangga nya ketika para fans dan suporter bergabung dan mengusir rupert murdoch yang terus mengintai MU bak lebah mengintai kembang. kejayaaan menjadi raja eropa yang kita dapatkan dimalam indah dikota barcelona seakan menahbiskan kita sebagai penguasa eropa yang sesungguhnya, sebuah tim yang berjaya yang dimiliki bersama oleh suporter, sebuah tim yang dengan doa para suporter nya bisa membuat keajaiban dua gol di injury time time itu, doa yang membuat seorang sepp blater tertekun bingung, karena ketika turun dari podium kehormatan justru telah menyiapkan ucapan selamat kepada lothar mattheus kapten munchen ketika itu. disitulah idialisme MU mendapat suatu award luar biasa, meraih treble dengan dukungan fantastis dari semua suporter sejati MU diseluruh dunia, semua suporter bersatu berdoa untuk ke suksesan MU saat itu sehingga keajaiban pun terjadi...
Lalu bagaimana selanjutnya? seperti yang kita tahu, Glazer mengakuisisi bahkan akhirnya menjadi pemilik tunggal dari MU, 2005 terkuburlah sudah idialisme klub Manchester United, semua dukungan dari suporter hanyalah dukungan dan membuat Glazer dan keluarga nya gembira, karena setiap dukungan, setiap fans baru berarti uang buat kantong glazer dan keluarganya .fans dan suporter rame-rame urunan membayar utang-utang glazer, secara tanggung renteng namun apakah MU akan menjadi milik mereka setelah utang itu kelar, ???sayangnya MU tetap milik glazer,miris bukan?
Glazer telah berhasil membeli sejarah dan tradisi panjang MU utk di tranformasikan dalam bentuk bisnis, bagi para fans fanatik, mereka akan menghilang di OT, tidak ad lagi muka-muka pemegang tiket terusan yang setia menyaksikan MU dari jaman ke jaman, sekarang tribun di streetford end pun sudah bukan pemilik aslinya lagi, alias diperjual belikan oleh pemegang tiket terusan asli nya yang sudah ogah datang ke OT. tiket terusan tetap mereka beli seperti tradisi, turun temurun mereka, namun mereka akan menjual eceran-kan tiket-tiket itu kepada para "turis" dan uang hasil jualan nya akan mereka pakai untuk nonton di pub-pub sekitar OT dan sisanya yang banyak masih tetap bisa dipakai untuk menonton game FC United, dimana perlahan secara pasti roh dari MU di rainkarnasikan kesana, dan di klub anak kemaren sore itulah mereka tanamkan konsep idialisme dalam sepakbola dalam arti yang sesungguhnya.
Gegap gempita di Moscow pada bulan Juni 2008 jelas dan nyata milik MU, tapi samakah arti nya penerimaaannya dihati suporter sejati MU bila dibandingkan dengan malam megah di Nou Camp 99? jelas tidak!!kemenangan MU di final moscow jelas kemenangan ekspansi bisnis Glazer, dengan kemengan itu raupan euro demi euro akan masuk dalam kantong nya dan akan semakin cepat untuk menutup utang sang vampire.fanatisme suporter MU sekarang berarti bunyi dering uang buat glazer, chant chant yang berkumandang akan semakin membuat glazer sumringah, chant-chant inspiratif baru MU akan menjadi jualan glazer buat RBT di provider-provider telekomunikasi di seluruh dunia, chant inspiratif yang tercipta karena kecintaan fans terhadap MU dijual dan keuntungan nya masuk kantong pribadi glazer, wow apakah ini adil buat fans??
bandingkan dengan betapa bangga nya fans FC Barcelona ketika mereka menjadi Raja Eropa di tahun 2005 dan tahun 2009, para cules menganggap itulah puncak kejayaan, bukti eksistensi, hasil kerja keras, orgasme nya rasa kebanggaan mereka akan klub yang merupakan representasi jiwa mereka orang per orang, Joan Laporta berserta kru FCB boleh mabuk semalaman bergembira secara ekslusif, tp rakyat catalonia pun punya hak yang samauntuk merayakan nya, karena FCB adalah representasi, perwakilan jiwa dan kebanggaan mereka dalam bentuk organisasi sepakbola. ironisnya ketika kita fans MU berteriak kencang dikala throphy UCL 2008 dianggap tinggi-tinggi oleh pemain MU, berkecamuklah dihati kita kalau MU ini punya Glazer, hahahaa..... kita berteriak-teriak seperti primata selama ini ternyata hanya untuk menaikan nilai kontrak MU pada sponsor didada jersey kita musim depan, Glazer sangat jenius dalam memanfaatkan momentum itu!
Perlahan tapi pasti tumbuh kesadaran dalam fans dan suporter MU, meski kesadaran itu masih pada tingkat terbatas dikalangan fans fanatik MU, untuk siapa kita bersorak, apa untungnya kita bersorak? untuk siapa kejayaan klub yang kita sorakin? toh semua hanya berujung pada kata komersialisasi sepakbola, tidak ada lagi idealisme, kebangaan sebagai suporter yang memiliki utuh klub yang di bela, semua chant kita hanya akan jadi alat penawar Glazer pada tv untuk nilai kontrak pay per view, semakin besar desibel sorakan kita makan semakin tinggi kontrak yang akan MU terima dari TV, lalu nilai kontrak itu untuk siapa?? adakah untuk klub?? jelas untuk keuntungan pribadi sang pemilik..
Dilematis sebagai fans MU, disatu sisi sangat mencintai klub nya, disisi lain klub itu bukan punya dia, mungkin menjadi fans Arema Malang akan lebih damai hati nya, karena mereka memiliki dalam arti sebenarnya akan sebuah klub, tidak perlu throphy banyak, tidak perlu langganan juara, tp mereka punya identitas diri, harga diri fans Arema jelas lebih diatas fans MU, hahahaha....apa artinya kaya tapi kekayaan nya semu, banyak rumah kalau sertifikatnya semua di bank ya semu donk namanya, apakah anda mau hidup dalam dunia semu, ya itu pilihan masing-masing orang tentunya,.
Para suporter fanatik MU perlahan tapi pasti mundur, buktinya?? bandingkan desibel chant OT sekarang dengan saat Cantona masih bermain, beda jauhhh sekali, padahal dengan kapasitas penonton yang jauh lebih banyak seharusnya bisa menghasilkan lebih besar desibel, tapi semua itu terkubur seiring terkuburnya idialisme MU yang tergadaikan pada Malcolm Glazer. dengar lah kata seoarang alumnus Red Army bernama Matt Hacnett ini, "datanglah kekandang kami, (FCUM) kami sediakan pertandingan seharga 5 Pounds, fanatisme dan tentunya nyanyian tiada henti" "MU adalah sepak bola yang sangat bagus, tapi FC United lah sepakbola sesungguhnya, karena disana sepakbola lebih dari sekedar kehidupan" sambungnya....bahkan tokoh sentral gabungan suporter MU Nick Towle telah jelas-jelas berucap tentang MU "it's not my football club anymore"..akan kah jiwa, idialisme, tradisi, sejarah akan dipindahkan suporter ke FC United of Manchester? waktu akan menjawab, apakah gerakan suporter yang punya idialisme tinggi ini akan berhasil atau tidak, well jangan kaget 7-8 tahun dari sekarang FCUM akan menjadi seperti FC Barca, sebuah Organisasi sepak bola berwujud Klub, dan bukan Perusahaan sepakbola berwujud klub seperti MU sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar