Alkisah, Nathan Algern seorang Kapten Angkatan Darat Amerika handal yang
diterjunkan di medan perang untuk membasmi pemberontakan kelompok samurai yang
dipimpin oleh Katsumoto. Algern
berjuang sendiri memimpin pasukan yang sangat tidak terlatih dan berpengalaman
sehingga diapun kalah dari pertarungan yang semestinya tidaklah susah untuk di
menangkannya seandainya dia memiliki pasukan yang bisa mengikuti ritme
kehebatannya. Nathan Algern akhirnya ditangkap
dan berpindah posisi, membelot? Mungkin tidak, karena ditempat baru nya dia
nyaman dan mendapat apa yang selama ini di inginkan, pasukan yang sempurna,
kolektif tanpa mengandalkan seseorang kecuali pemimpin sejati mereka Katsumoto, sang samurai.
Sekelumit kisah yang dibungkus
apik oleh oleh sutradara Edward Zwick
dalam epic berjudul The Last Samurai sekilas
muncul di benak saya ketika melihat awal penampilan Robin van Persie (RvP) di Klub Manchester United di musim English
Premier League 2012-2013. Kita tahu Betapa dominannya RvP selama beberapa musim kebelakang di Arsenal, dia menjadi ruh utama
dan 70% nyawa dari klub berjuluk The
Gunners itu.
Tidak perlu waktu lama buat MU
untuk menerima hasil dari investasi sekitar 20 juta Poundsnya, menit 10 dalam
pertandingan pertamanya sebagai starter, menerima umpan silang yang sebenarnya
tidak terukur dari Patrice Evra, RvP dengan skill pembunuh nya langsung
mengunting bola tersebut ke pojok sudut kiri gawang Fulham yang menkonversinya
menjadi gol untuk kubu setan merah. Sebuah gol yang menunjukan betapa tingginya
skill mencetak gol RvP, dan tentu buat
fans MU itu adalah sajian pembuka yang sangat istimewa.
Melihat aura yang di tunjukan RvP selama pertandingan tersebut,
terlihat kalau dia begitu menikmati bermain bersama teman-teman barunya, apa
yang di carinya selama ini mungkin saja telah terpenuhi, RvP menjadi pemain juara bersama dengan tim Juara, gemblengan nya selama
ini di Arsenal untuk menjadi pemain juara bermuara di klub yang sangat mungkin
memberikan gelar juara kepadanya, apa yang telah dilakukan Mathieu Flamini, Kolo Toure, Cesc
Fabregas, mantan sejawatnya dulu menjadi inspirasi baginya, bahwa menjadi
pemain juara hanya akan menjadi sejati bila benar-benar dapat mengangkat
throphy juara itu sendiri.
Sir Alex Ferguson (SAF), dia
lah sang Katsumoto dalam cerita ini,
dia tidak membunuh Kapten Algren, malah melihat potensi yang besar dalam diri sang kapten yang bisa membuat pasukannya
lebih kuat jika memberdayakannya, dengan skill dan tehniknya sebagai warrior
terlatih, tidak susah bagi Katsumoto untuk membimbing menjadi pejuang tangguh
dipasukannya.
Ya, SAF tinggal momeles dan
memadukan keahlian dan skill tinggi milik RvP
dengan kolektivitas Klub bertajuk setan merah ini, karena selama ini
kolektivitas bermain adalah senjata utama dari klub yang berdiri tahun 1878
tersebut.
Dan ini tentunya bukan pekerjaan baru bagi SAF, dia pernah sukses melakukannya pada Eric Cantona, Teddy Sheringham, Ruud Van Nistelrooy, Dimitar Berbatov. Kesemuanya memiliki kisah yang kurang lebih sama dengan RvP, di “tangkap” di usia yang tidak muda lagi namun sukses berakhir sebagai legenda setan merah. kini tinggal menunggu apakah RvP bisa memenuhi ekspetasi tinggi yang terlanjur terlekat pada dirinya? Namun melihat apa yang tersaji di match pertama, sepertinya Ruud Van Nistelrooy harus bersiap-siap menerima saingan baru sebagai Dutch Legend di West Stand, pojok tribun bersejarah di Old Trafford.... Viva Van Persie .....
Dan ini tentunya bukan pekerjaan baru bagi SAF, dia pernah sukses melakukannya pada Eric Cantona, Teddy Sheringham, Ruud Van Nistelrooy, Dimitar Berbatov. Kesemuanya memiliki kisah yang kurang lebih sama dengan RvP, di “tangkap” di usia yang tidak muda lagi namun sukses berakhir sebagai legenda setan merah. kini tinggal menunggu apakah RvP bisa memenuhi ekspetasi tinggi yang terlanjur terlekat pada dirinya? Namun melihat apa yang tersaji di match pertama, sepertinya Ruud Van Nistelrooy harus bersiap-siap menerima saingan baru sebagai Dutch Legend di West Stand, pojok tribun bersejarah di Old Trafford.... Viva Van Persie .....
